Pelaksanaan Rapat Kerja (Raker) IAIN Langsa tahun 2026 pada hari kedua diwarnai dengan pembahasan mendalam mengenai penguatan identitas akademik program studi, Jumat (06/02/2026). Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., yang hadir sebagai narasumber utama, menekankan pentingnya program studi untuk memiliki distingsi. Sahiron mencontohkan, Program Studi Psikologi Islam penting untuk memiliki ciri khas yang kuat dibandingkan dengan prodi psikologi di perguruan tinggi umum. Menurutnya, kurikulum Psikologi Islam harus mampu mengeksplorasi kekayaan khazanah intelektual Muslim dengan memperkenalkan mahasiswa pada karya-karya klasik atau kitab turats para ulama yang membahas tentang kejiwaan.
![]() |
| Foto Bersama Kegiatan Raker IAIN Langsa 2026 Hari Kedua |
Dalam arahannya, Prof. Sahiron mendorong agar mahasiswa diajak untuk mengenali dan membedah pemikiran tokoh-tokoh besar seperti Imam al-Ghazali, ar-Razi, hingga Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Pendekatan ini dinilai penting agar lulusan Psikologi Islam tidak hanya menguasai teori psikologi Barat, tetapi juga memiliki landasan epistemologis yang kuat dari tradisi pemikiran Islam. Hal ini diharapkan menjadi nilai tawar sekaligus keunggulan kompetitif bagi alumni PTKI dalam menjawab tantangan kesehatan mental dengan perspektif yang lebih komprehensif dan religius.
Menanggapi arahan strategis tersebut, Ketua Prodi Psikologi Islam, Dedy Surya, M.Psi. menyatakan komitmen penuhnya dalam mengembangkan keilmuan integratif. Saat ini, Prodi Psikologi Islam telah mengimplementasikan kurikulum yang memuat mata kuliah penciri, seperti Perilaku Manusia dalam Al-Quran dan Hadis yang berfokus pada kajian proses terjadinya perilaku dari sudut pandang wahyu. Selain itu, terdapat pula mata kuliah Studi Tokoh dan Pemikiran Psikologi Islam, Kitab Turats Psikologi Islam, serta Psikologi Tasawuf. Muatan-muatan lokal ini disandingkan dengan mata kuliah psikologi umum yang kurikulumnya telah diintegrasikan dengan pemikiran dan khazanah keislaman.
Meskipun upaya menghadirkan kurikulum integratif ini diakui sebagai tantangan besar, mengingat usia Program Studi Psikologi Islam yang baru memasuki tahun keempat ini, semangat untuk melakukan inovasi tetap menjadi prioritas utama. Proses penyempurnaan kurikulum terus dilakukan secara bertahap guna memastikan bahwa lulusan yang dihasilkan mampu menjadi praktisi atau akademisi psikologi yang mumpuni secara saintifik sekaligus berakar kuat pada nilai-nilai keislaman. Langkah ini menjadi bagian dari visi besar prodi dalam mewujudkan transformasi Tridharma yang unggul dan berdampak luas.

0 Komentar